Menu
Toko Online Sudah Mendukung Fitur Ongkos Kirim Otomatis Yang Lengkap JNE/WAHANA/POS/TIKI/SICEPAT DLL

Jejak Sejarah Reog Ponorogo

Nov
08
2016
by : admin. Posted in : Artikel

Ragam kesenian tradisional disejumlah daerah di Indonesia, adalah aset budaya lokal dengan ciri khas dan keunikan masing-masing. Keragaman inilah yang membuat Indonesia menjadi negara paling kaya akan budaya bahkan tidak dimiliki negara dibelahan dunia manapun. Satu diantara sekian banyak kesenian tradisional tersebut, Reog Ponorogo termasuk kesenian lokal yang paling mendunia. Kesenian yang identik dengan tarian Warok-nya ini hingga kini masih sering dipentaskan diberbagai event. Hal ini mengindikasikan bahwa ditengah arus modernisasi yang semakin tak terkendali, kesenian Reog dari Ponorogo tetap eksis sebagai identitas bangsa yang tak tergerus oleh zaman.

reog ponorogo

Sesua dengan namanya, Reog Ponorogo diambil dari salah satu kabupaten di Jawa Timur yang merupakan asal kesenian tradisional itu sendiri yaitu Kabupaten Ponorogo. Kesenian Reog ini bukan hanya aset budaya lokal tapi sekaligus icon daerah Ponorogo. Hal ini terlihat dari pintu gerbang masuk ke kota Ponorogo yang dihiasi oleh patung dan lukisan melambangkan sosok Warok yang merupakan tokoh utama pada kesenian tradisional ini.

Sejarah Reog Ponorogo

Layaknya beberapa budaya khas di Pulau Jawa, kesenian tradisional Reog Ponorogo juga identik dengan hal-hal yang berbau mistis dimana segala sesuatu yang berkaitan dengan ‘kebatinan’ terasa begitu kental. Ini bisa dilihat dari beberapa ritual-ritual khusus yang dilakukan sebelum dimulainya pementasan Reog.

Sejarah Reog Ponorogo sendiri sebenarnya ada 5 versi, tentunya masing-masing memiliki cerita berbeda. Namun begitu, yang paling menarik adalah Reog yang diawali oleh cerita pemberontakan Ki Ageng Kutu. Konon Ki Ageng Kutu adalah seorang abdi dalem kerajaan Majapahit yang terakhir, yaitu pada masa pemerintahan Prabu Bhre Kertabhumi di-abad ke-15. Menurut cerita, Ki Ageng Kutu kecewa dengan kepemimpinan raja yang dinilai sewenang-wenang dan banyak korupsi karena pengaruh istri raja yang berasal dari China. Bahkan ia memastikan bahwa masa keemasan kerajaan Majapahit akan segera berakhir.

Karena terlanjur kecewa dengan pemerintah kerajaan Majapahit, akhirnya Ki Ageng Kutu meninggalkan raja untuk kemudian mendirkan sebuah perguruan bela diri. Ia merekrut anak-anak muda untuk diajarkan seni bela diri dan ilmu kebal. Bahkan Ki Ageng Kutu menaruh harapan besar pada anak-anak muda tersebut dan meyakini bahwa mereka adalah bibit-bibit baru untuk kebangkitan kerajaan Majapahit yang diyakini tak lama lagi akan runtuh.

Karena menyadari kekuatan yang dihimpunnya tidak sebanding dengan kekuatan kerajaan Majapahit, dan tidak mungkin untuk melakukan perlawanan, maka Ki Ageng Kutu menyampaikan pesan politisnya melalui kesenian tari Reog Ponorogo. Hal tersebut tujuannya untuk ‘menyindir’ raja Kertabhumi terutama pemerintahannya yang dinilai tidak pro rakyat.

Simbol-simbol Tarian Reog Ponorogo

Bisa dibilang pagelaran Reog Ponorogio adalah trik khusus yang digunakan ole Ki Ageng Kutu, untuk membangun perlawanan yang melibatkan masyarakat lokal. Dari setiap gerakan tarian hingga atribut yang digunakan semua adalah seimbol yang memiliki arti tersendiri. Salah satunya topeng besar menyerupai kepala singa atau kemudian dikenal dengan “Singo Barong” yang konon dijadikan simbol sosok Prabu Kertabhumi. Pada bagian atas kepala singa, ditancapkan bulu-bulu merak hingga membentuk kipas raksasa, yang melambangkan betapa kuatnya pengaruh kolega-kolega Kertabhumi dari negeri China.

Pada atraksi Reog Ponorogo juga mempertontonkan Jatilan, memerankan tokoh Gemblak yang naik kuda-kudaan. Sekawanan Gemblak ini melambangkan kekuatan pasaukan Kerajaan Majapahit yang sangat bertolak-belakang dengan kekuatan Warok. Dibalik topeng singa adalah pemain yaitu simbol dari Ki Ageng Kutu yang sendirian menopang Singo Barong seberat lebih dari 50 kg hanya dengan menggunakan gigi. Keberadaan Reog yang semakin meluas membuat Prabu Bhre Kertabhumi murka lalu melakukan penyerangan ke perguruan Ki Ageng Kutu. Karena kalah dalam hal kekuatan jumlah pasukan, maka pihak kerajaan Majapahit berhasil menutup perguruan silat tersebut dari semua aktivitas.

Meskipun sudah tidak ada lagi perguruan Ki Ageng Kutu, namun semangat murid-muridnya untuk meneruskan perjuangan sang guru tak pernah surut. Mereka dengan sukarela kembali melanjutkan ajaran dan ilmu bela diri yang diwariskan oleh Ki Ageng Kutu pada masyarakat umum. Itupun harus dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi. Karena sudah terlanjur melakat kuat di masyarakat luas, pertunjukan Reog sendiri masih diperbolehkan untuk berbagai acara pementasan. Meski begitu alur cerita dari pementasan tersebut mempunyai nuansa baru dimana terdapat beberapa karakter seperti Sri Genthayu, Dewi Songgo Langit dan Kelono Sewandono.

Untuk masyarakat Ponorogo sendiri kesenian tardisional Reog ini umumnya dipentaskan untuk memeriahkan acara pernikahan, khitanan, atau event penting lainnya. Tarian Reog biasanya diawali dengan serangkaian tari pembuka. Adapun tarian pertama dibawakan oleh 6 hingga 8 orang pria yang terlihat gagah dengan kostum serba hitam, dan seluruh mukannya dipoles warna merah. Berikutnya tarian kedua menampilkan 6 hingga 8 penari perempuan yang menaiki kuda. Untuk Reog tradisional biasanya peran penari wanita tersebut digantikan oleh pria namun berpakaian seperti wanita. Setelah pementasan tarian pembuka selanjutnya adalah pertunjukkan adegan inti. Cerita adegan inti ini biasanya menyesuaikan dengan tema acara. Misalnya tema percintaan untuk acara pernikahan atau jika untuk acara khitanan umumnya memperagakan adegan kepahlawanan atau cerita tentang pendekar.

Festival Reog Mini (FRM)

reog ponorogo

Kesenian Reog Ponorogo memang sudah mengakar khususnya di daerah Ponorogo sendiri. Konsistensi untuk mencintai dan melestarikan kesenian lokal tidak hanya sebatas wacana namun ditunjukkan dengan gebrakan nyata oleh pemerintah daerah setempat. Sebagai daerah yang menjunjung tinggi adat dan budaya, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo setiap tahun menggelar Festival Reog Mini (FRM) yang dikuti oleh sejumlah peserta yang terdiri dari elemen pelajar dari tingkat SD dan SMP.

Layaknya tarian Reog Ponorogo yang dipentaskan oleh orang dewasa, FRM yang diikuti pelajar SD dan SMP ini juga dipusatkan di alun-alun kota Ponorogo. Seperti biasanya, event FRM ini mampu menyedot animo masyarakat lokal hingga ke pelosok daerah bahkan tidak sedikit wisatawan asing yang turut menyaksikan festival tersebut. Event ini biasanya diselenggarakan beberapa hari atau tergantung dari jumlah peserta. Semakin banyak perwakilan yang mengikuti FRM, semakin lama festval itu dilangsungkan, bahkan sampai 5 hari berturut-turut.

Festival Reog Mini ini sebenarnya bukan sekedar agenda tahunan untuk memperingati hari jadi kota Ponorogo, namun juga bentuk upaya pelestarian kesenian asli Ponorogo kepada generasi muda, agar kedepannya muncul seniman Reog baru. tentu saja tujuannya agar kesenian Reog ini tidak punah dan tetap bisa dinikmati sebagai hiburan masyarakat lokal dan seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya.

Disamping itu diselenggarkannya FRM adalah moment tepat untuk promosi sekaligus untuk menggali potensi budaya dan bakat generasi muda, untuk tetap mencintai kesenian khas asli daerah Ponorogo yang sudah terkenal baik di Indonesia maupun mancanegara. Kepedulian Pemda Ponorogo untuk melestarikan kesenian Reog Ponorogo memang tidak main-main. Hal ini terbukti dengan dimasukkannya kesenian Reog dalam kurikulum Muatan Lokal disetiap sekolah di Kabupaten Ponorogo.

Berlangganan PenjualWeb.Com via Email

Masukkan alamat e-Mail Anda untuk berlangganan artikel website ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan artikel baru publish melalui e-Mail anda.

Purwakarta
087776085557
admin[at]penjualweb.com